People Power kalahkan Ahok?

​People Power Kalahkan Ahok ?

Oleh Denny JA – ( Minggu, 23 Apr 2017 – 11:35:18 WIB ) 

The power in people is much stronger than the people in power. Ketika rakyat menyatu, digerakkan oleh passion mencari keadilan, melawan tirani, maka tembok paling kuat dari kekuasaanpun roboh!
Tak heran negara paling super power di dunia saat itu, Uni Sovyet, bubar. Hitler, yang hampir menguasai dunia, tumbang. Tak ada kekuatan yang lebih kuat dibandingkan rakyat yang sudah menyatu dan ikhlas mengambil semua resiko.
Itu yang kemudian dikenal dengan nama people power. Dalam pilkada Jakarta, versi lain dari people power itu, sekali lagi versi yang berbeda dari people power itu bekerja.
Mengapa dalam pilkada Jakarta disebut versi lain dari people power? Itu karena dalam pilkada bertarung kandidat yang sama sah dan legal. Mereka sama sama tokoh baik dan tokoh pujaan di mata pendukung masing-masing. Ini bukan Good versus Evil. Ini Baik versus Baik di mata penyokong masing-masing.
Banyak pihak berperan mengalahkan Ahok. Namun peran paling besar adalah spirit yang menggerakan people power. Ahok dikalahkan oleh sebuah momen yang tidak direkayasa oleh satu-dua orang, tapi sinerji aneka variabel baik yang dirancang, ataupun yang datang tak terduga.
Itulah kesimpulan akhir saya selaku konsultan politik. Saya memegang data sebelas kali survei di Jakarta sejak Maret 2016 hingga April 2017. Saya bekerja dengan rencana dan strategi. Namun harus saya akui banyak yang masih tak terjelaskan yang akhirnya Ahok dikalahkan secara telak.
Sejak Maret 2016, saya mengekspresikan opini soal pilkada Jakarta. Tak terduga total yang sudah saya publikasi sebanyak Lima pulih satu tulisan. Mayoritas tulisan itu analisis survei, yang merekam opini, harapan, kemarahan, kekecewaan pemilih Jakarta. Banyak pula tulisan berupa puisi.
Sejak awal saya sudah memposting aneka tulisan itu dalam project web Inspirasi.co. Bahkan sejak awal saya sudah memilih judulnya. Sudah ditulis sebagai nama project buku itu: People Power Kalahkan Ahok. Padahal ketika tulisan pertama dibuat di April 2016, Ahok masih sangat perkasa, seolah mustahil dikalahkan.
Bagi yang rindu ingin membuka kembali dokumen pilkada Jakarta 2017 sejak awal; bagi yang mulai ingin menganalisa pilkada Jakarta lebih serius secara akademik; bagi yang ingin merasakan passion dan dinamika sebuah momen pilkada, terimalah hidangan buku ini.
Anggaplah ini catatan harian seorang konsultan politik. Ini buku penuh data riset. Banyak analisis. Tapi tak kurang hadir pula perspektif dan passion.
-000-
Ketika menjadi aktivis mahasiswa di tahun 1980-an, saya cukup intens mengunjungi Sutan Takdir Alisyahbana. Ia budayawan, sastrawan, juga seorang entrepreneur. Banyak renungan yang saya dapat darinya.
Satu kutipan yang saya ingat hingga kini, ia menggambarkan tentang sosok pemikir besar. Ujarnya, pemikir besar itu seperti ayam yang berkokok. Sebelum matahari terbit, sebelum orang banyak sadar fajar segera menyingsing, ayam tahu terlebih dahulu dan berkokok. Akibat kokok ayam itu, masyarakat tahu pagi segera datang.
Pemikir besar adalah mereka yang melampaui pengetahuan zamannya. Ia lantang dan berani berkokok, tak peduli apapun resikonya.
Saya tidak mengklaim dan bukan pemikir besar. Tapi memang untuk pilkada Jakarta, saya sudah melihat dan menuliskan apa yang orang banyak, bahkan pada peneliti belum lihat.
Di bulan Febuari- Maret 2016, setahun sebelum pilkada putaran pertama dimulai, semua survei mengenai pilkada DKI menunjukkan data yang sama. Siapapun calon yang dilawankan ke Ahok, dalam pertanyaan untuk 5- 10 calon gubernur, Ahok sendirian didukung oleh pemilih sebesar di atas 55 persen.
Survei LSI Denny JA sendiri di bulan Maret 2016, menunjukkan elektabilitas Ahok sekitar 59 persen. Semua calon lain bahkan digabung menjadi satu, totalnya tak sampai 35 persen. Sisa pemilih tak menjawab.
Aneka lembaga survei dan publik luas nyaris sepakat saat itu bahwa Ahok bukan saja akan terpilih kembali. Tapi Ahok akan menang satu putaran saja.
Tanggal 1 April 2016, saya sudah membuat tulisan yang dimuat Inspirasi.co. Tulisan itu cukup meluas dan dibaca para elit. Judulnya justru kebalikannya dengan opini saat itu: Ahok Kuat, tapi Bisa Dikalahkan.
Berbeda dengan keyakinan orang banyak, saya berkeyakinan Ahok memang kuat saat itu, tapi ia akan dikalahkan. Saya tak punya kemampuan paranormal, atau indra keenam. Tapi mengapa saya begitu yakin dengan kesimpulan yang melawan “conventional wisdom,” melawan arus besar era itu?
Jawabnya, analisis data dan jam terbang saya selaku konsultan politik. Saya dianggap founding father profesi konsultan politik Indonesia yang bersandar pada survei opini publik. Sejak pemilu presiden langsung yang pertama di 2004, dan pilkada langsung pertama di 2005 saya sudah terlibat intens menjadi konsultan politik. Saat itu profesi tersebut belum dikenal.
Di tanggal 1 April 2016 itu, saya sudah ikut memenangkan tiga kali pemilu presiden, tiga puluh pilkada gubernur dan lebih dari 70 pilkada kabupaten dan kota madya. Saya sudah mendalami ratusan survei opini publik dan belajar memahami data.
Dari data dan jam terbang itu, saya melawan arus opini di era tersebut. Saya membaca tanda, melihat sinyal yang tersembunyi dalam data. Tak dipungkiri, data menunjukkan Ahok kuat. Bahkan sangat, sangat kuat. Tapi sinyal data juga menyatakan Ahok bisa dikalahkan.
Saya seperti ayam jago juga berkokok. Tapi publik luas lebih banyak yang tak yakin, bahwa kokok ayam saya itu mengabarkan datangnya fajar.
19 April 2017, setahun kemudian, apa yang saya tulis itu terbukti. Ahok kalah. Saya terlibat aktif ikut mengalahkannya sejak 1 April 2016.
Mengapa Ahok kalah? Data, perspektif dan analisa dapat dibaca dalam aneka tulisan bersandar pada riset di buku ini.
-000-
Di media online 13 April 2017, saya membaca komentar Ruhut Sitompul. Ujarnya, “Denny JA itu musuh bebuyutannya Ahok. Tak usah ditanggapi.” Saat itu Ruhut diminta komentar hasil survei LSI Denny JA menjelang pencoblosan putaran kedua, yang mengabarkan Ahok akan kalah. Lawannya, Anies-Sandi sudah mendapatkan dukungan di atas 51 persen, jauh dibandingkan Ahok di angka 42 persen.
Saya tersenyum membacanya dan bertanya dalam hati. Apa yang membuat Ruhut, dan banyak orang lain menganggap saya musuh bebuyutannya Ahok?
Di Viva news 11 November 2016, saya juga membaca komentar Ahok sendiri. Ketika merespon hasil survei LSI, ia mengatakan “LSI Denny JA itu memang selalu melemahkan saya sejak di Bangka Belitung.”
Memang 10 tahun lalu, dalam pilkada 2007 di Bangka Belitung, saya berhadapan dengan Ahok yang menjadi calon gubernur Babel 2007. Saya membantu saingannya Eko Maulana.
Sebagaimana dalam pilkada DKI 2017, di daerahnya di Babel, Ahok juga sangat fenomenal. Ia diyakini akan menjadi gubernur terpilih. Tapi akhirnya ia dikalahkan Eko Maulana dengan prosentase sangat tipis.
Saya sendiri nyaris tak pernah berjumpa dan bicara empat mata dengan Ahok. Seingat saya hanya sekali saya pernah berpapasan dan saling menyapa waktu jumpa kebetulan menonton preview Film Hanung Bramantyo.
Namun di hati saya tak ada masalah personal dengannya. Ini hanya sebuah profesi saja. Kebetulan di Babel 2007 dan DKI 2017 saya membantu saingannya untuk mengalahkan Ahok. Sebagai profesional tentu saya mencari semua cara yang dibolehkan hukum nasional dan prinsip demokrasi mengalahkan Ahok. Sesimpel itu.
-000-
Mengapa saya memilih mengalahkan Ahok di pilkada DKI 2017? Bukankah selaku aktivis Indonesia Tanpa Diskriminasi kemenangan Ahok adalah kemenangan Indonesia Tanpa Diskriminasi?
Ahok itu triple minoritas. Ia minoritas agama, minoritas etnik, dan pendatang pula. Bukankah jika Ahok menang, dan di ibu kota pula, itu akan menjadi panggung besar menunjukkan tak ada masalah dengan minoritas- mayoritas?
Hal itu banyak ditanyakan pada saya. Kegiatan saya ikut mengalahkan Ahok mendatangkan bahkan putusnya silahturahmi dan perkawanan. Banyak sahabat dan kolega yang dulu bersama berjuang mempopulerkan Indonesia Tanpa Diskriminasi kini berjarak.
Beberapa WA grup yang saya ikut dibubarkan karena pro-kontra Ahok. Hubungan pertemanan di Facebook dan Twitter juga diputus. Bahkan silahturahmi dengan beberapa partner ideologis itu juga terhenti karenanya.
Saya sendiri sebenarnya sudah mengundurkan diri sebagai konsultan politik. Di LSI grup, saya sudah resmi mundur. Tak ada satu jabatan resmi pun yang saya pegang lagi di sana. Saya hanya sebagai pemilik saja.
Saat itu saya sudah meminta teman-teman LSI merelakan saya pensiun. Sambil bergurau saya katakan, sebaiknya para juara itu pensiun di puncak kejayaannya, bukan di era ketika ia sudah banyak dikalahkan.
Puncak kejayaan saya anggap ketika melakukan hatrick, tiga kali berturut-turut memenangkan pemilu presiden. Yaitu ketika LSI tercatat ikut memenangkan SBY (2004), SBY (2009), Jokowi (2014).
Berseloroh saya bercerita kepada kolega di LSI bahwa kita harus seperti Lionel Messi atau Christian Ronaldo. Jangan hanya mereka yang melakukan hatrick mencetak tiga goal dalam satu pertandingan. Kita juga harus mencetak hatrick dalam ibu segala pemilu yaitu pemilu presiden.
Semua rekor puncak sudah saya capai. Rekor untuk survei paling akurat, quick count paling cepat dan akurat, publikasi paling heboh, dan paling banyak memenangkan klien, sudah saya raih.
Bahkan untuk kampanye sosial media saya sudah mendapatkan penghargaan internasional dari majalah berita terbesar dunia TIME Magazine. Juga penghargaan dari Twitter Inc internasional.
Saya merasa tak ada lagi tantangan di profesi itu. Ibarat pendaki, tujuh gunung tertinggi sudah ditaklukkan. Saatnya memberi panggung kepada generasi selanjutnya.
Secara resmi saya pensiun selesai Pilpres 2014. Waktu yang ada saya fokus pada kegiatan sastra, membuat film, kegiatan sosial Indonesia Tanpa Diskriminasi dan bisnis. Saya juga mulai menulis kembali aneka kolom. Itu dunia yang pernah sangat intens saya geluti dan kemudian saya tinggalkan.
Semua kegiatan LSI diambil alih yang muda. Saya hanya terlibat enam bulan sekali ketika diadakan Raker dan RUPS.
Menjelang pilkada Jakarta, karena sudah didelegasikan wewenang, masing-masing pimpinan bergerak secara bebas bertemu atau melobi calon klien.
Ketika jumpa dengan pimpinan baru LSI, mereka bercerita. Sudah ada dua kali pertemuan pihak LSI dengan Ahok. Ujar mereka, agaknya Ahok masih sulit untuk klik dengan LSI. Mengapa? Tanya saya. Mungkin kasus pilkada Babel 2007, pak. Jawab mereka.
Secara tak sengaja saya juga jumpa dengan seorang konglomerat di pesta pernikahan. Ia bertanya ke saya: “you ada kasus apa dengan Ahok?” Saya rileks saja menjawab, saya tak ada kasus apapun dengan Ahok.
Konglomerat itu bercerita, saya sudah bilang ke Ahok, anda sebaiknya dibantu Denny JA di pilkada DKI 2017. Anda jangan marah dengan Denny soal pilkada Babel itu. Anda justru harus terima kasih ke Denny. Gara gara kalah di Babel, kan anda sekarang jadi gubernur DKI.
Jika dulu anda jadi gubernur Babel, anda sekarang tidak menjadi gubernur DKI, ujar konglomerat itu becerita percakapannya dengan Ahok. Saya dan konglomerat itu tertawa dengan logika out of the box.
Di bulan akhir Febuari 2016, kembali saya berjumpa dengan teman-teman yang mengelola LSI. Pak Denny, ujar mereka, mustahil LSI absen di pilkada DKi. Ini magnet semua pilkada. Kita selaku konsultan politik terbesar akan aneh jika absen di panggung politik pilkada terbesar.
Sudah dicoba semua saluran ke Ahok, tapi tak jalan. Kita agaknya terpaksa melawan Ahok lagi. Tapi Ahok sangat perkasa. Akan buruk untuk reputasi LSI jika kita kalah di Jakarta. Ini disorot semua pemain politik.
Mereka pun membuat usul. Pak Denny harus turun gunung agar Ahok bisa dikalahkan. Ya, pak Denny, yang lain meneguhkan. Pak Denny harus ikhlas demi reputasi LSI untuk terlibat aktif lagi.
Ha? Jawab saya. Saya sudah menikmati masa pensiun saya sebagai konsultan, dan mulai menapak penjadi peminat puisi, aktivis dan penulis lagi. Ibarat buku, saya sudah meluncur ke Bab 2. Kok diminta balik ke Bab 1 lagi?
Saya teringat film cowboy legendaris di tahun 1952: High Noon. Saat itu Will Kane sang cowboy sudah menyiapkan diri pensiun, dan hidup damai beserta keluarga. Namun situasi memintanya untuk menjadi cowboy aktif kembali.
Saya bertanya dalam hati. Haruskah saya menjadi seperti Will Kane? Saya belum definitif merespon permintaan teman teman di LSI. Namun saya sudah mulai aktif membuat tulisan untuk membentuk opini.
Tanggal 1 April 2016, tulisan saya pertama soal pilkada Jakarta dipublikasi. Motif tulisan itu untuk membuka mata banyak pihak bahwa Ahok memang kuat, tapi bisa dikalahkan.
Tapi saya masih setengah hati untuk aktif lagi. Sambil juga saya merenungkan apa lagi yang mau saya capai dengan niat mengalahkan Ahok? Siapa pula kandidat yang harus saya bantu?
Saya agak risih turun gunung mengalahkan Ahok jika alasannya hanya untuk reputasi LSI. Semata itu sebagai alasan, ia kurang memanggil. Ia kurang bisa membuat saya memberikan hati seluruh.
Harus untuk tujuan yang lebih besar, yang lebih terasa kepentingan publiknya. Itu saya syaratkan pada diri saya untuk akhirnya turun gunung melawan Ahok. Jika tak ada alasan sosial yang lebih besar, saya memilih tetap pensiun saja.
Semakin lama saya mendalami prilaku dan pernyataan publik Ahok, semakin saya teguh dan bulat hati.
Selaku aktivis yang sejak lama ikut menghayati prinsip demokrasi dan hak asasi, saya banyak kaget dengan pernyataan publik Ahok. Ia misalnya mengatakan mereka yang demo itu sebaiknya disiram Canon berisi bensin hingga terbakar.
Atau ia bersedia membunuh 2000 orang demi melindungi 10 juta penduduk. Atau ketika para ibu menangis akibat rumahnya digusur, enteng saja ia berkomentar para ibu itu seperti main sinetron.
Ahokpun tidak risih berkata di depan TV: taik! taik! Atau seorang ibu ia maki di depan orang banyak: ibu maling!
Terlebih lagi, Ahok mudah saja menggusur tak ikut prosedur hukum. Akibatnya ia beberapa kali dikalahkan di pengadilan.
Walau kinerjanya sebagai gubernur baik di banyak bidang, Ahok tidak mencontohkan pemimpim dengan pernyataan publik yang terjaga. Ia seorang manajer kota yang kuat. Tapi Ahok sangat tumpul kecerdasan emosionalnya, membuat pernyataan emosional tak perlu.
Itu bukan menggambarkan pemimpin yang tegas, tapi kasar, tak sensitif atau tak peduli dengan emosi massa. Bahkan cenderung arogan di mata orang banyak. Ini bukan tipe pemimpin yang saya ideakan buat ibu kota.
Baiklah saya turun gunung. Saya putuskan sepenuh hati dengan semua resikonya bergerak mengalahkan Ahok kembali. Saya pernah mengalahkanya di Babel 2007. Kini saya ingin kalahkan lagi
Tekad saya lebih kuat lagi setelah Ahok membuat blunder soal Al Maidah. Mungkin baginya, dan pendukungnya, itu bukan soal besar. Namun untuk Jakarta yang demokrasinya masih labil, hadirnya pemimpin yang tak peduli dengan emosi massa, bisa membuat bangunan demokrasi semakin labil.
Saya pun menemukan alasan sosial mengapa Ahok berharga untuk dikalahkan.
-000-
Buku ini berisi 51 (lima puluh satu) tulisan saya soal pilkada Jakarta. Umumnya itu analisis hasil survei. Ada juga analisa berita. Juga ada puisi yang menggambarkan suasana batin pilkada saat itu.
Anggap saja buku ini catatan harian konsultan politik. Tulisan paling awal tanggal 1 April 2016. Tulisan paling akhir di ujung bulan April 2017 ketika sudah pasti terpilih gubernur baru.
Dengan membaca buku ini secara kronologis, tergambar dinamika opini, harapan, kemarahan, kecemasan pemilih Jakarta yang direkam melalui sebelas kali survei. Ditambah dua exit poll dan dua quick count melengkapi data.
Terekam pula batin penulis di momen itu melalui aneka puisi khusus soal pilkada.
Ini buku pertama kumpulan tulisan seorang konsultan politik yang intens memotret, menganalisa, dan ikut mempengaruhi hasil akhir pilkada. Panggungnya ibu kota Jakarta. Heboh peristiwa dalam pilkada itu tepat dikatakan. Ini ibu semua pilkada, yang paling dramatik, yang paling menyita perhatian, yang paling mengkwatirkan, yang paling menguggah emosi, yang pernah terjadi di Indonesia.
Di akhir buku, saya membuat tiga serial meme. Itu sikap akhir saya soal pilkada Jakarta. Meme 3: Ahok-Djarot tidak kalah, tapi sedang diuji dan diberi hikmah. Meme 2: Anies-Sandi tidak menang, tapi ditinggikan tanggung jawabnya. Meme 1: Mari Satukan Jakarta Kembali.(*)

tanya tak butuh jawab

Hari ini aku menemukan fakta baru, up date banget. Chatingan via tagged per 7 desember… gres 

Aku bukan tipikal orang yang suka grasa grusu cari info. Masa2 itu udah lewat di usia 30-an. Capek dan sakit sendiri. Aku sampai di titik pasrah, semua terserah Allah,  sehingga segala sesuatu yang berpotensi membuat aku sakit, kecewa cukup aku hindari atau buat jarak dengan potensi tersebut. Aku memperkuat kepasrahanku kepada Allah dan mencoba menikmati proses yang harus dilalui, meskipun harus menahan perih dan sakit. 

Aku tidak buta, tapi aku punya prinsip cukup Allah. Sampai pada satu titik, Allah memperlihatkan ke genggaman aku, aku digerakan untuk buka email pemberitahuan medsos gmail dia di hp aku. Jreeeeeng…. terbukalah semua.

Boleh saja kamu tidak mengakui, namun aku tidak butuh pengakuan. Boleh saja kamu bilang gmail di hack, tp data kamu A 1 semua. Kamu bilang terserah, iya memang terserah, karena Allah gak pernah tidur. Inilah jawaban atas pertanyaanku sama Allah,  akhirnya Allah menghadirkan tanpa basa basi.  Ok, sekarang aku tidak ada alasan lagi untuk menahan kamu, atau bertahan dengan kamu, clearly. Karena aku tetap Nazhifah amir yang punya prinsip dalam hidup hanya akan memohon pertolongan Allah,  karena hanya Allah yang gak pernah bohong dan gak pernah ingkar janji. 

Pernah aku bertanya sama Allah, kenapa aku bertemu orang kurang baik, aku temukan jawabannya pasti karena aku kurang baik juga. Untuk itu aku bersyukur masih diberi kesempatan memperbaiki diri. Alhamdulillah ya Allah. 

Padang, 7 desember 2016. 

Malam hening… 

Pukul 00.45 saat ini. Di saat mata enggan terpejam. Dalam kesendirian tubuh terasa begitu lelah menjalani hari hari terkungkung rutinitas yang tak terbayangkan sebelumnya. Tak ada niatan pensiun lalu hari hari hanya diisi dengan tugas pagi2 menyiapkan teh umi sama sepotong roti untuk sarapan, makan siang dst…sampe ngurusin pup umi sekalian untuk diri sendiri. Tak lama berselang cucu datang dan harus ditangani amanah ini setidaknya dari jam 6.30 pagi hingga jam 20.30 pada malam hari, bisa lebih lama lagi. Hidup terjebak dalam rutinitas tanpa variasi.

Seharusnya ini bisa jadi ladang amal, karena ibu dengan usia 88 tahun udah pikun harusnya menjadi pintu syorga. Tapi terkadang syetan membangkitkan nafsu amarah atas kejengkelan apa yang diperbuat ibunda, astaghfirullah… Atau karena tubuh lelah menjalani ini. Amarah begitu gampang tersulut.

Dengan tambahan amanah seorang cucu, membuat langkah ini terhalang, tidak punya ‘me time’. Sekarang sudah tak punya waktu lagi untuk kumpul sama teman2, arisan apalagi ke salon untuk nyenangin diri. Bukan tidak mensyukuri kehadiran cucu, tapi kearifan dan pengertian orang2 yang terkait minim sekali. Masing2 hanya memikirkan diri sendiri dan kepentingan sendiri. 

Meskipun ada saudara tapi untuk nitip umi agak 3 hari atau seminggu saja tidak bisa.

Sekarang kembali hidup terasa sebatang kara, terjebak dalam rutinitas dan tanggung jawab menjaga ibu dan cucu sekaligus. Allah selalu menarik saya untuk memperkokoh “iyya kanak budu wa iyya kanasta’in” Allah menguji pembuktian “hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.” 

Bagaimana masa ini bisa saya lewati sampai batas pertahanan ini sanggup dijalani. Semua kembali kepada Allah, yang maha menggenggam kehidupan ini. Tak ada tempat berbagi selain Allah. Bila tidak persoalan meninggalkan kita atau kita meninggalkan persoalan.

Semoga ada jalan keluar, ibadah saya dapat maksimal lagi dan masing2 ikut ambil peran bertanggung jawab dengan segala kearifannya. Niat pensiun bersenang2, ibadah, jalan2 uang cukup, bisa terwujud.

Semoga… 

siapa menabur angin pasti menuai badai

Fenomena penipuan berselimut agama lalu mengkultuskan seseorang yang dianggap punya ‘karomah’, membuat kita geleng2 kepala. Seperti yang hangat di pemberitaan ada padepokan brajamusti lalu yang teranyar padepokan dimas kanjeng. kalo padepokan brajamusti pengikutnya masih relatif sedikit dan mensasar kalangan artis atau yang ingin jadi artis, sedangkan padepokan dimas kanjeng tidak tanggung2 pengikutnya mencapai 2500an orang dan dari berbagai lapisan masyarakat, ini membuat geger publik. Mulai dari rakyat jelata orang desa, ada juga TNI berpangkat jendral ada PNS sampai dengan pejabat bahkan politikus lulusan sekolah di luar negri sekelas Marwah Daud adalah salah satu simpatisannya, tepatnya didapuk jadi ketua yayasan dimas kanjeng.

Bagaimana para korban bisa percaya ada manusia yang bisa menggandakan uang, tanpa harus kerja keras, tanpa hak. Cuma dengan sim salabim abrakadabra… hellooo…. Bila lapar aja kita harus menyuap nasi ke mulut di proses baru bisa kenyang.. itu nasihat ibunda saya agar kita ikhtiar dulu berproses untuk mendapatkan hasil.

Dengan ditangkapnya dedengkot padepokan seharusnya memberi pelajaran dan pembelajaran bagi kita semua. Terutama kita masyarakat tidak mudah percaya dengan hal2 yang diluar nalar dan akal sehat. Pegang satu prinsip nasehat kakak saya “uang kalo lepas dari tangan kita bukan uang kita lagi”, jadi be carefull… hati2 dalam melepaskan uang dari genggaman.

Bagaimana pola dimas kanjeng menipu masyarakat luas? Awalnya tipu2 dimulai dengan penarikan benda2 gaib. Bisa jadi dengan metode sulap atau sihir dia me-hipnotis yang menyaksikan dengan berbalut atau berselimut dibalik agama mengaku mendapat karomah. Kemudian setelah beberapa orang yang dapat dibuat yakin mereka diangkat menjadi ‘kader’. Seperti pola ‘MLM’ atau multi level marketing. Para kader ini merekrut pengikutnya. Kemudian untuk beberepa wilayah ditunjuk koordinator. Bahkan untuk wilayah sulawesi ada padepokan dimas kanjeng atau cabangnya kantornya merupakan rumah milik marwah daud. Ketua yayasan dimas kanjeng tidak tanggung2 yaitu Marwah Daud. Politisi golkar ini tampil di media membenarkan kemampuan dimas kanjeng dalam menggandakan uang dan kemampuannya menghilang. Bahkan membela sang guru spiritual agar diperlakukan dengan baik karena dimas kanjeng merupakan aset. Untuk melindungi tipu2 ala dimas kanjeng. Untuk membangun imagenya dimas kanjeng memajang fotonya di istana bersalaman dengan presiden Jokowi. Ada juga foto bersama Kasat TNI Jend. Gatot dan orang2 terkenal di negri ini.

Di dalam beragama memang kita didoktrin untuk percaya kepada yang gaib. Memang benar Allah memberi karomah kepada orang tertentu. Tetapi yang harus ditekankan dan tak kalah penting harus berilmu membedakan antara yang tipu2 dengan yang benar. Yang pasti bila otientasinya materi atau keduniawian jelas itu palsu, karena Allah tidak mencampurkan yang baik dengan yang buruk. Tuntutlah ilmu sejak dari ayunan sampai ke liang lahat, demikian nasehat nabi Muhammad SAW. Makanya di dalam al quran disebutkan orang yang berilmu ditinggikan beberapa derajat.

Korban dimas kanjeng penipuan tdk tanggung2, setidaknya saat ini ada tiga besar yang sudah melapor. Ada yang menyetor dari makasar mencapai 200 milyar, ibu tersebut sampai meninggal tidak memperoleh penggandaan uangnya, putra korban melapor ke mabes polri dengan membawa setumpuk bukti berupa kertas putih yang dimaksudkan sebagai hasil penggandaan uang ala dimas kanjeng.

Di akhir zaman ini perlu diwaspadai, tak perlu mencari yang rumit, cukup tempuh jalan sederhana yang diajarkan alquran dan dicontohkan sunnah, Insya Allah selamat dunia akherat.

Di ujung masa

Empat tahun berjuang seharusnya cukup menjadikan kita arif memahami makna yang kita perjuangkan. Tapi waktu tidak cukup untuk mengubah watak dan prilaku. Di saat kepasrahan pada Ilahi meningkat, di saat itu juga ujian atas kesabaran menjelma.

Saat ini bukan lagi waktunya untuk mengungkapkan penyesalan. Karena penyesalan hanya akan memperdalam luka yang menganga. Bagaimana membangun diri dari sisa puing2 yang ada, di atas reruntuhan. Sampah tetap sampah, syukur2 masih bisa jadi kompos. Cepat selesaikan semua persoalan yang terbengkalai, jangan biarkan dirimu, pikiranmu, hatimu diombang-ambing oleh manusia s****h seperti dia.

Jangan beri celah bagi dia untuk menghancurkan kamu lebih jauh lagi. Sekarang bangkit bangun percaya diri, kamu bisa melewati semua selamatkan anak cucu didik mereka dg segala ilmu dan daya yang ada. Bahagiakan dirimu dg caramu sendiri, jangan menggantungkan bahagia ke orang lain endingnya hanya kekecewaan. Terus melangkah tanpa melawan aturan Allah apalagi melawan takdir-Nya. Stop keluh kesah, kembangkan kemampuan menulis berbagi lewat tulisan, minimal memyalurkan bakat dan mengasah kemampuan menulis, syukur2 bermanfaat.