Sebuah pemikiran, untuk menjerat pelaku pelecehan di angkutan umum

Saya merasa terusik dengan cerita Jamilah bukan nama sebenarnya, yang mengalami pelecehan di kereta api dari Rawa Buntu menuju Tanah Abang . Pria bejat moral itu mencoba membuka maaf ‘tali bra’nya.
Ironisnya saat dia melaporkan perbuatan si pria bejat moral tersebut di stasiun Jurangmangu Polres Jakarta Selatan, polisi tidak menemukan pasal untuk menjerat pelaku pelecehan tersebut. Upaya Jamilah ingin memberi pelajaran dan membuat jera pelaku tidak berbuah hasil .
Ini pertanyaan serius saya, apakah benar demikian, sudah ada korban, ada saksi mata, jelas tempat kejadian perkara tapi pelaku tidak bisa dijerat hukum. Ini membuat kita apatis. Mungkin UU kita perlu dievaluasi. Seperti kata Jamilah Di surelnya kepada detik.com. “Padahal saya ingin buat pelaku jera dengan harapan dia bisa dipenjara satu bulan. Ternyata ini alasan para korban pelecehan di angkutan umum enggan melapor .
Yang ingin saya garis bawahi selayaknya hukum itu bisa diterapkan di saat ada yang merasa dirugikan, punya efek preventif dan efek jera . Jangan ditunggu jatuh korban baru hukum bergerak. Sehingga pelaku pelecehan tidak bisa melenggang leluasa melecehkan wanita. Dengan kejadian yang dialami Jamilah selayaknya hukum bisa menjerat pelaku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s