“OUTSOURCHING” prakteknya laksana perbudakan modern..

“OUTSORCHING” prakteknya laksana perbudakan modern. Suara ini sudah sering saya dengar dalam orasi unjuk rasa para buruh. Tapi saya tidak menyangka prakteknya lebih buruk. Tadinya saya menduga praktek outsourching hanya salah satu jalan untuk menyederhanakan prosedur dan ingin perusahaan gak mau ribet ngurusin hal – hal non-teknis yang menyita waktu dan biaya.
Konsep outsourcing secara teori tidak buruk-buruk amat. Pertama perusahaan harus menetapkan dulu ‘core dan non-core’ bisnia perusahaan. Secara terpisah semua yang memberi kontribusi lansung terhadap jasa atau produk. Dan penetapan core dan non-core tidak bisa semena-mena tapi melalui asosiasi perusahaan. Misalnya jasa survey, wadahnya AISI (Asosiasi Independent Surveyor Indonesia).
Lebih ditail UU juga mengatur 4 kelompok yang boleh di outsoutching, yaitu Jasa katering, keamanan, supir antar jemput karyawan dan satu lagi lupa (?) Hehehe
Namun dalam prakteknya, naudzubillah min zalik.
Hal ini berangkat dari pengalaman putri saya, mendapat panggilan interview di perusahaan terbesar di Padang. Sebagai orang tua yang berpengalaman di bidang ke-PSDM -an saya bekali ananda unt
uk bisa “menjual diri” dalam interview tersebut.
Ada beberapa catatan yang harus digaris bawahi:
1. Bahwa ananda melewati interview dengan penuh percaya diri.
2. Terungkap bahwa untuk tenaga safety dipekerjakan tenaga outsourching.
3. Untuk itu hanya berhak atas salary maksimal 3jt. (itupun sudah tergolong tinggi, ckckck)
4. Ada persyaratan tidak menikah selama 3 tahun.
5. Dengan jam kerja proyek, bisa masuk jam 7 keluar jam 7, serta tidak mengenal week end, paling banter dapat libur salah satu hari sabtu saja atau ,minggu saja.

Terpikir oleh saya praktek outsourching ini apakah manusiawi. Dengan salary yang jomplang antara pegawai perusahaan dengan tenaga outsourcing yang dipekerjakan. Sementara tugas dan tanggung jawabnya terciptanya keselamatan kerja. Apakah di mata mereka perlakuannya sama aja seperti buruh pikul batu di proyek atau malah lebih kecil. Atau mereka tidak paham K3. Sepanjang pengetahuan saya perusahaan yang konsen dengan K3 sangat menghargai posisi ini. Dan mereka layak dapat salary yang lebih baik. Siapa pun yang mengisi posisi itu layak dapat salary yang lebih baik, minimal 5jt.
Prakteknya mungkin perusahaan merasa bargaining positioning nya Di atas angin, Sehingga memandang sebelah mata mereka para job seeker. Sudah selayaknya pengawas ketenaga-kerjaan mengawasi praktek culas, manipulasi tenaga outsourching ini.
Sehingga praktek stigma perbudakan modern atas tenaga outsourching bisa di minimalisasi bahkan di hapuskan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s