tanya tak butuh jawab

Hari ini aku menemukan fakta baru, up date banget. Chatingan via tagged per 7 desember… gres 

Aku bukan tipikal orang yang suka grasa grusu cari info. Masa2 itu udah lewat di usia 30-an. Capek dan sakit sendiri. Aku sampai di titik pasrah, semua terserah Allah,  sehingga segala sesuatu yang berpotensi membuat aku sakit, kecewa cukup aku hindari atau buat jarak dengan potensi tersebut. Aku memperkuat kepasrahanku kepada Allah dan mencoba menikmati proses yang harus dilalui, meskipun harus menahan perih dan sakit. 

Aku tidak buta, tapi aku punya prinsip cukup Allah. Sampai pada satu titik, Allah memperlihatkan ke genggaman aku, aku digerakan untuk buka email pemberitahuan medsos gmail dia di hp aku. Jreeeeeng…. terbukalah semua.

Boleh saja kamu tidak mengakui, namun aku tidak butuh pengakuan. Boleh saja kamu bilang gmail di hack, tp data kamu A 1 semua. Kamu bilang terserah, iya memang terserah, karena Allah gak pernah tidur. Inilah jawaban atas pertanyaanku sama Allah,  akhirnya Allah menghadirkan tanpa basa basi.  Ok, sekarang aku tidak ada alasan lagi untuk menahan kamu, atau bertahan dengan kamu, clearly. Karena aku tetap Nazhifah amir yang punya prinsip dalam hidup hanya akan memohon pertolongan Allah,  karena hanya Allah yang gak pernah bohong dan gak pernah ingkar janji. 

Pernah aku bertanya sama Allah, kenapa aku bertemu orang kurang baik, aku temukan jawabannya pasti karena aku kurang baik juga. Untuk itu aku bersyukur masih diberi kesempatan memperbaiki diri. Alhamdulillah ya Allah. 

Padang, 7 desember 2016. 

Malam hening… 

Pukul 00.45 saat ini. Di saat mata enggan terpejam. Dalam kesendirian tubuh terasa begitu lelah menjalani hari hari terkungkung rutinitas yang tak terbayangkan sebelumnya. Tak ada niatan pensiun lalu hari hari hanya diisi dengan tugas pagi2 menyiapkan teh umi sama sepotong roti untuk sarapan, makan siang dst…sampe ngurusin pup umi sekalian untuk diri sendiri. Tak lama berselang cucu datang dan harus ditangani amanah ini setidaknya dari jam 6.30 pagi hingga jam 20.30 pada malam hari, bisa lebih lama lagi. Hidup terjebak dalam rutinitas tanpa variasi.

Seharusnya ini bisa jadi ladang amal, karena ibu dengan usia 88 tahun udah pikun harusnya menjadi pintu syorga. Tapi terkadang syetan membangkitkan nafsu amarah atas kejengkelan apa yang diperbuat ibunda, astaghfirullah… Atau karena tubuh lelah menjalani ini. Amarah begitu gampang tersulut.

Dengan tambahan amanah seorang cucu, membuat langkah ini terhalang, tidak punya ‘me time’. Sekarang sudah tak punya waktu lagi untuk kumpul sama teman2, arisan apalagi ke salon untuk nyenangin diri. Bukan tidak mensyukuri kehadiran cucu, tapi kearifan dan pengertian orang2 yang terkait minim sekali. Masing2 hanya memikirkan diri sendiri dan kepentingan sendiri. 

Meskipun ada saudara tapi untuk nitip umi agak 3 hari atau seminggu saja tidak bisa.

Sekarang kembali hidup terasa sebatang kara, terjebak dalam rutinitas dan tanggung jawab menjaga ibu dan cucu sekaligus. Allah selalu menarik saya untuk memperkokoh “iyya kanak budu wa iyya kanasta’in” Allah menguji pembuktian “hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.” 

Bagaimana masa ini bisa saya lewati sampai batas pertahanan ini sanggup dijalani. Semua kembali kepada Allah, yang maha menggenggam kehidupan ini. Tak ada tempat berbagi selain Allah. Bila tidak persoalan meninggalkan kita atau kita meninggalkan persoalan.

Semoga ada jalan keluar, ibadah saya dapat maksimal lagi dan masing2 ikut ambil peran bertanggung jawab dengan segala kearifannya. Niat pensiun bersenang2, ibadah, jalan2 uang cukup, bisa terwujud.

Semoga… 

siapa menabur angin pasti menuai badai

Fenomena penipuan berselimut agama lalu mengkultuskan seseorang yang dianggap punya ‘karomah’, membuat kita geleng2 kepala. Seperti yang hangat di pemberitaan ada padepokan brajamusti lalu yang teranyar padepokan dimas kanjeng. kalo padepokan brajamusti pengikutnya masih relatif sedikit dan mensasar kalangan artis atau yang ingin jadi artis, sedangkan padepokan dimas kanjeng tidak tanggung2 pengikutnya mencapai 2500an orang dan dari berbagai lapisan masyarakat, ini membuat geger publik. Mulai dari rakyat jelata orang desa, ada juga TNI berpangkat jendral ada PNS sampai dengan pejabat bahkan politikus lulusan sekolah di luar negri sekelas Marwah Daud adalah salah satu simpatisannya, tepatnya didapuk jadi ketua yayasan dimas kanjeng.

Bagaimana para korban bisa percaya ada manusia yang bisa menggandakan uang, tanpa harus kerja keras, tanpa hak. Cuma dengan sim salabim abrakadabra… hellooo…. Bila lapar aja kita harus menyuap nasi ke mulut di proses baru bisa kenyang.. itu nasihat ibunda saya agar kita ikhtiar dulu berproses untuk mendapatkan hasil.

Dengan ditangkapnya dedengkot padepokan seharusnya memberi pelajaran dan pembelajaran bagi kita semua. Terutama kita masyarakat tidak mudah percaya dengan hal2 yang diluar nalar dan akal sehat. Pegang satu prinsip nasehat kakak saya “uang kalo lepas dari tangan kita bukan uang kita lagi”, jadi be carefull… hati2 dalam melepaskan uang dari genggaman.

Bagaimana pola dimas kanjeng menipu masyarakat luas? Awalnya tipu2 dimulai dengan penarikan benda2 gaib. Bisa jadi dengan metode sulap atau sihir dia me-hipnotis yang menyaksikan dengan berbalut atau berselimut dibalik agama mengaku mendapat karomah. Kemudian setelah beberapa orang yang dapat dibuat yakin mereka diangkat menjadi ‘kader’. Seperti pola ‘MLM’ atau multi level marketing. Para kader ini merekrut pengikutnya. Kemudian untuk beberepa wilayah ditunjuk koordinator. Bahkan untuk wilayah sulawesi ada padepokan dimas kanjeng atau cabangnya kantornya merupakan rumah milik marwah daud. Ketua yayasan dimas kanjeng tidak tanggung2 yaitu Marwah Daud. Politisi golkar ini tampil di media membenarkan kemampuan dimas kanjeng dalam menggandakan uang dan kemampuannya menghilang. Bahkan membela sang guru spiritual agar diperlakukan dengan baik karena dimas kanjeng merupakan aset. Untuk melindungi tipu2 ala dimas kanjeng. Untuk membangun imagenya dimas kanjeng memajang fotonya di istana bersalaman dengan presiden Jokowi. Ada juga foto bersama Kasat TNI Jend. Gatot dan orang2 terkenal di negri ini.

Di dalam beragama memang kita didoktrin untuk percaya kepada yang gaib. Memang benar Allah memberi karomah kepada orang tertentu. Tetapi yang harus ditekankan dan tak kalah penting harus berilmu membedakan antara yang tipu2 dengan yang benar. Yang pasti bila otientasinya materi atau keduniawian jelas itu palsu, karena Allah tidak mencampurkan yang baik dengan yang buruk. Tuntutlah ilmu sejak dari ayunan sampai ke liang lahat, demikian nasehat nabi Muhammad SAW. Makanya di dalam al quran disebutkan orang yang berilmu ditinggikan beberapa derajat.

Korban dimas kanjeng penipuan tdk tanggung2, setidaknya saat ini ada tiga besar yang sudah melapor. Ada yang menyetor dari makasar mencapai 200 milyar, ibu tersebut sampai meninggal tidak memperoleh penggandaan uangnya, putra korban melapor ke mabes polri dengan membawa setumpuk bukti berupa kertas putih yang dimaksudkan sebagai hasil penggandaan uang ala dimas kanjeng.

Di akhir zaman ini perlu diwaspadai, tak perlu mencari yang rumit, cukup tempuh jalan sederhana yang diajarkan alquran dan dicontohkan sunnah, Insya Allah selamat dunia akherat.

Di ujung masa

Empat tahun berjuang seharusnya cukup menjadikan kita arif memahami makna yang kita perjuangkan. Tapi waktu tidak cukup untuk mengubah watak dan prilaku. Di saat kepasrahan pada Ilahi meningkat, di saat itu juga ujian atas kesabaran menjelma.

Saat ini bukan lagi waktunya untuk mengungkapkan penyesalan. Karena penyesalan hanya akan memperdalam luka yang menganga. Bagaimana membangun diri dari sisa puing2 yang ada, di atas reruntuhan. Sampah tetap sampah, syukur2 masih bisa jadi kompos. Cepat selesaikan semua persoalan yang terbengkalai, jangan biarkan dirimu, pikiranmu, hatimu diombang-ambing oleh manusia s****h seperti dia.

Jangan beri celah bagi dia untuk menghancurkan kamu lebih jauh lagi. Sekarang bangkit bangun percaya diri, kamu bisa melewati semua selamatkan anak cucu didik mereka dg segala ilmu dan daya yang ada. Bahagiakan dirimu dg caramu sendiri, jangan menggantungkan bahagia ke orang lain endingnya hanya kekecewaan. Terus melangkah tanpa melawan aturan Allah apalagi melawan takdir-Nya. Stop keluh kesah, kembangkan kemampuan menulis berbagi lewat tulisan, minimal memyalurkan bakat dan mengasah kemampuan menulis, syukur2 bermanfaat.

Puisi tanpa koma…

Banyak hal ingin kuungkap dari perasaan ku yang terdalam, tentang indahnya fatamorgana yang terukir, saat aku melintasi jalan datar berliku, di saat aku memulai sebuah kalimat, aku didera rasa takut dan khawatir atas apa penilaian orang tentang itu, demi rasa aman yang kuharapkan, aku bungkam isak tangisku, hanya sesekali senyum getir dan berharap badai pasti berlalu, namun tentu itu hanya sebatas harapan, karena aku belum menemukan ujung jalan itu yang akan berakhir dengan TITIK.